Skip to main content

About

Saksi Iman 

"Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." - Ibrani 11:1 

"Membangun hubungan dengan Tuhan, berdamai dengan diri sendiri dan semua orang" 

Dalam perjalanan kehidupan, seringkali kita ragu menjadi Saksi Kristus. Karena menjadi Saksi Kristus bukanlah hal yang mudah. Ada banyak tantangan kehidupan yang harus kita hadapi, entah itu diri sendiri atau pun orang-orang di sekitar kita. 

Namun satu hal yang pasti, bahwa menjadi Saksi kita butuh tanda pengenal layaknya KTP. 

KTP Saksi Iman

1. Ketulusan

Ketulusan artinya kita tulus melakukan pekerjaan di ladang Tuhan untuk kemuliaan nama Tuhan. 

2. Tanpa Kepalsuan

Tanpa kepalsuan artinya kita melakukannya murni dari hati dan tidak ada niat tersembunyi.

3. Penuh Kesabaran

Penuh kesabaran artinya setelah semua yang kita lakukan, tidak serta merta mengubah dunia siap sejalan untuk menjadi Saksi Iman. Dan kita harus sabar untuk  menerima kenyataan tersebut.

Kembali lagi dengan tantangan kehidupan. 

Mulai dari diri sendiri.

Apakah saya pantas menjadi seorang Saksi Iman?

Kita tidak perlu menunggu apapun untuk menjadi Saksi Iman.

Yang kita perlukan adalah siap belajar dan berusaha melakukan yang terbaik untuk Tuhan. Siap menyebarkan kasih yang tulus, tanpa kepalsuan, dan penuh kesabaran.

Menjadi Saksi Iman tidak membuat kita lebih benar dari orang lain. Itu yang paling penting. Kita tidak berada pada posisi untuk menghakimi orang-orang di sekitar kita.

Tantangan yang kedua.

Bagaimana cara kita menghadapi orang-orang yang tidak menyukai kita?

Kita sering mendengar ungkapan: "Wajar jika kita dibenci, namanya juga manusia. Ada yang suka ada yang tidak."

Namun kadang-kadang kita juga tidak sadar kalau penyebab orang-orang tidak menyukai kita adalah karena sikap dan tingkah laku kita yang tidak benar. Karena itu, intropeksi diri wajib.

Tetapi juga tidak bisa dipungkiri bahwa selalu ada saja orang-orang yang iri hati, bahkan terhadap kedermawanan seseorang. Apa yang akan kita katakan tentang ini?

Jika mereka yang membencimu, berbicara yang tidak benar tentangmu?

Tidak perlu membela diri dengan kata-kata untuk membenarkan diri. Tapi nampakkanlah kebenaran berdasarkan buah-buah roh. Karena pohon dikenal dari buahnya dan manusia dikenal hatinya melalui sikap dan perbuatannya. Dan itu tidak bisa dibuat-buat. Hanya saja, kadang kita sengaja menutup mata tentang ini.

Sebagai pengikut Kristus, kita diajarkan untuk mengasihi musuh. 

Apakah kita sanggup mengasihi musuh?

Tidak mungkin. Itu mustahil (impossible). Bahkan mungkin saja kita akan berpikir ini ajaran yang 'gila' dan terbilang 'ekstrem' dari Tuhan Yesus. Hanya orang bodoh yang bisa mengasihi musuhnya. Namun tentu Tuhan punya tujuan memberikan perintah kasih itu.

Bagaimana mungkin kita bisa mengasihi musuh?

Jika kita melihat lebih jauh, Tuhan tidak ingin kita memiliki musuh. Ia tidak ingin kita memiliki dan menganggap seoarang pun sebagai musuh.

"Satu musuh terlalu banyak dan seribu teman terlalu sedikit."

Dalam Menjalankan Tugas sebagai Saksi Iman

"Untuk bisa melihat semua serpihan kaca, kita harus melihat dari berbagai sudut pandang."

Kita bisa mendengar setiap cerita dari berbagai pihak. Namun kita tidak memihak. Kita harus berada pada posisi sebagai jembatan perdamaian, yang harus melihat dari semua sisi. 

Jadilah bijak dan mohonkanlah hikmat yang dari Allah. Tuhan Yesus memberkati...

Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri - Amsal 3:5


15 Februari 2021



Saksi Iman