Skip to main content

Khotbah Kristen tentang Bahaya Pujian

SAKSIIMAN.COM - Waspada terhadap pujian. Hati-hati terhadap pujian karena pujian adalah ujian. Hari ini, kita akan belajar dari salah satu renungan Kristen tentang apa itu pujian, manfaat pujian dan mengapa pujian itu bisa sangat berbahaya. Semuanya akan dibahas dalam satu renungan hari ini, bukan hanya untuk pemuda tapi juga semua kalangan usia, karena pada dasarnya, kita manusia suka dipuji.

Khotbah Kristen tentang Bahaya Pujian

Tema: "Hati-hati Terhadap Pujian"


Bahan bacaan:

Amsal 25:16, 27
16 Kalau engkau mendapat madu, makanlah secukupnya, jangan sampai engkau terlalu kenyang dengan itu, lalu memuntahkannya.
27 Tidaklah baik makan banyak madu; sebab itu biarlah jarang kata-kata pujianmu.

Saya sangat suka makan madu. Sewaktu masih kecil, saya selalu mencicipi madu setiap harinya. Rasanya memang lezat, saya yakin kita semua setuju tentang hal itu dan tidak satupun yang akan menolak jika ditawari madu. Jangankan ditolak, kita malah sering mencarinya.

Renungan kita hari ini juga ada kaitannya dengan madu. Dalam pembacaan kita di atas, madu dapat diartikan sebagai pujian. Siapa sih, yang tidak mau dipuji? Pada dasarnya, manusia memang senang dipuji, disanjung dan dikagumi.

Apakah mendapat pujian itu salah? Tidak! Tuhan memang memberikan kepada setiap manusia talenta dan karunia yang harus digunakan. Madu memang lezat tapi setiap orang yang menerimanya harus berhati-hati.

Mari kita lihat Alkitab kita dari Amsal 25:16, kalau engkau makan madu makanlah secukupnya. Pada dasarnya, semua yang berlebihan memang tidak baik. Jika kita melakukan sesuatu yang layak mendapatkan pujian maka jadikanlah pujian itu sebagai motivasi, namun jangan berlebihan menyikapi pujian tersebut.

Pujian memang dapat mendorong seseorang untuk berbuat lebih baik lagi dari sebelumnya. Pujian menjadikan seseorang lebih percaya diri. Namun, kita tetap diingatkan untuk berhati-hati dengan pujian. 

Bahaya dipuji memang bukan perkara yang biasa. Persoalan ini dapat menjadi serius jika kita terlalu senang dengan kata-kata pujian. Bisa-bisa, kita menjadi orang yang gila pujian. Di mana-mana mau dihormati, di mana-mana mau disanjung, mau dikagumi.

Orang yang gila pujian akan selalu merasa lebih tinggi dari orang lain. Dan jika tidak mendapat pujian, maka orang seperti ini akan merasa direndahkan. 

Pada akhirnya, iri hati akan muncul dan sikap perfeksionisme terhadap diri sendiri akan semakin tinggi. Jika sikap perfeksionisme tidak dapat diikuti maka hidup akan selalu berkekurangan, lebih buruk lagi menjadi kepahitan.

Bahaya Gila Pujian


Jangan sampai engkau terlalu kenyang dengan itu, lalu memuntahkannya. Pujian dapat menjadi madu yang lezat namun juga dapat berubah menjadi racun yang mematikan. 

Hal ini tergantung pada pribadi yang menerima pujian. Jika orang tersebut orang yang gila hormat dan pujian maka tentu saja pujian itu dapat menjadi racun. Tahulah, bagaimana bahayanya racun itu. Bisa membunuh.

Mengapa kita harus hati-hati dengan pujian?

1. Pujian dapat menjadikan seseorang sombong

Pujian dapat membuat seseorang menjadi tinggi hati,merasa paling hebat dan paling benar. Pujian dapat membuat seseorang lupa diri sehingga menipu dirinya sendiri.

2. Pujian dapat membuat seseorang berpuas diri

Berbeda dengan bersyukur, berpuas diri adalah merasa puas dengan suatu pencapaian. Bersyukur adalah selalu hidup berkecukupan dalam segala keadaan. Pujian dapat menghentikan usaha seseorang dan terlena dengan pencapaiannya.

Cara Menyambut Pujian


Apakah kita harus membenci pujian dan melarang seseorang memuji kita? Saya rasa hal itu mustahil. Kita harus melihat hal-hal positif di balik suatu pujian. 

Bagaimana menyambut pujian? 

Cara terbaik untuk menyambut pujian adalah dengan tetap rendah hati dan tidak terlena dengan kata-kata pujian.

Kita harus berhati-hati dalam menyikapi pujian. Dalam persekutuan, tidak jarang seseorang tampil dan mendapatkan pujian dan tepuk tangan dari jemaat. Hal ini tidaklah salah, karena kita memang harus berlomba-lomba dalam pekerjaan Tuhan. Namun, ingat, kemuliaan hanya dari Tuhan dan untuk Tuhan.

Mari kita lihat Amsal 25:27, kita garis bawahi pada kata-kata pujian. Berhati-hatilah dengan kata-kata manis yang keluar dari mulut kita untuk seseorang maupun yang keluar dari mulut seseorang. 

Peringatan inilah yang ingin diungkapkan oleh Amsal 25:27. Selain berhati-hati dalam memuji seseorang kita pun harus berhati-hati dengan pujian.

Tidak sedikit orang yang juga iri saat orang lain mendapatkan pujian. Orang seperti ini juga dapat memberikan kata-kata pujian yang sangat manis namun tidak dari lubuk hati yang sesungguhanya. Manis di depan tapi pahit di belakang atau istilahnya bermuka dua. 

Pujian dari orang bermuka dua dapat berujung pada malapetaka. Namun masalahnya bukan dari orang tersebut. Masalah utamanya tetap pada orang yang menerima pujian, bagaimana ia menyikapi kata-kata pujian yang ditujukan kepadanya.

Berhati-hati juga dalam memberikan pujian. Saat kita memuji pun, janganlah kita bermuka dua. Memberikan pujian harus ikhlas dengan tujuan agar orang yang dipuji lebih bersemangat dan termotivasi. Jangan berlebihan dalam memberikan pujian.

"Kata-kata pujian adalah salah satu bahasa kasih."

A: "Wah, kamu hebat!"
B: "Ah, kamu gombal."

Contoh di atas dapat menjadi salah satu tips agar kita menyikapi pujian itu dengan santai dan tidak perlu terlena dengan sanjungan seseorang. Saat kita memberikan pujian, kita harus meyakini bahwa pujian tersebut bertujuan untuk membangun. 

Bagaimana dengan kita yang hadir saat ini? 
Apakah kita masih hidup dalam keadaan yang ingin dikomentari dengan positif? 
Apakah kita ingin dipuji dan disanjung?

Disanjung dan dipuji tidaklah salah. Asal kita tidak memakannya mentah-mentah melainkan menjadikannya sebagai patokan standar untuk hidup lebih baik lagi. Semua pujian yang didapatkan berasal dari kasih karunia Allah yang seharusnya juga digunakan untuk memuliakan Allah.

Atau apakah kita juga masih sering iri dan bermuka dua dalam memuji teman kita? Marilah kita selalu berkata dan memberikan pujian dengan tulus ikhlas untuk kemajuan bersama. Jangan bermuka dua! 

Terakhir, mari tunjukkan sikap seorang hamba Tuhan yang berkualitas dengan tidak mencari pujian manusia. Kemuliaan hanya dari Allah dan untuk Allah. Terpujilah nama Tuhan, haleluya! Amin.
Demikianlah artikel tentang renungan Kristen seputar pujian. Apakah pujian itu madu yang menyegarkan atau jerat yang mematikan? Tergantung sikap kita dalam menghadapi pujian. Terima kasih dan semoga bermanfaat! Tuhan Yesus berkati!

#Khotbah Kristen 18 Maret 2020

Saksi Iman
Saksi Iman
Tempat untuk berbagi cerita betapa baik dan hebat Tuhan di dalam kehidupanku..

Tentang
Saksi Iman merupakan tempat untuk berbagi inspirasi dan motivasi Kristen.

Hubungi Kami
WhatsApp 085396717324
Email Lara4store@gmail.com

Alamat
Baebunta Selatan, Luwu Utara, Sulawesi Selatan, Indonesia - 92965
close